Senin, 17 April 2017

Gereja Menggelama: Gereja Bertembok pertama di Rote

Nama Gereja Menggelama diambil dari nama sebuah dusun yang berjarak sekitar 1 kilometer  dari Pelabuhan Laut Baa, Ibukota Kabupaten Rote Ndao. 
 
Adanya Gereja Menggelama menurut Soh & Maria (2008;55), adalah karena andil seorang warna Belanda bernama Jackstein yang memindahkan sekolah dan rumah penduduk ke dusun menggelama. Selanjutnya, Jackstein digantikan oleh seorang pendeta pengganti P.Y. Penning yang berkedudukan di Ba'a; karena sakit Penning kembali ke Belanda dan digantikan oleh Van Malsen. 
 
Van Malsenlah yang kemudian membangun Gereja Menggelama. Menurut Media Indonesia edisi 25 Desember 2011, dikatakan bahwa Gereja Menggelama didirikan selama 13 tahun yaitu pada kurun waktu 1880 sampai dengan tahun 1893. Namun, peletakkan batu pertama sebagai dasar untuk mendirikan sebuah gedung gereja yang pertama dibuat dari batu (tembok) (bisa dikatakan bahwa sudah  ada gereja di Rote namun belum terbuat dari batu (tembok) namun kemungkinan besar gereja yang ada masih dalam bentuk seperti rumah penduduk lokal yang umumnya terbuat dari kayu ) justru barulah dilakukan pada tahun 1882 (Soh & Maria, 2008;55-56) sehingga dapat dikatakan bahwa gereja menggelama yang merupakan gereja pertama bertembok sebenarnya dibangun dalam kurun waktu 11 tahun dan diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1893. Gereja Menggelama dipugar untuk pertama kalinya pada tahun 1896 atau 3 tahun setelah gereja ini dibangun (Media Indonesia, 2011).

Sayangnya, sejarah Gereja ini yang pada tanggal 31 Oktober nanti akan berusia 119 tahun yang mana saat ini telah menjadi cagar budaya yang mendapat perhatian dari Pemerintah dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) masih sangat minim dalam pencatatan ilmiahnya sebagai bukti sejarah.
 
Ataupun bila ada sangat sayang bahwa kajian ilmiah tersebut masih jauh dari publikasi sehingga bisa jadi kalau hal ini terus menerus dibiarkan maka sejarah gereja ini hanya akan menjadi cerita dongeng bagi generasi mendatang. 
 
Sebuah sejarah kalau hanya terus menerus dibicarakan (dilisankan)
maka suatu saat akan menjadi seperti sebuah cerita dongeng saja;
karena sejak manusia mengenal tulisan dan ilmu pengetahuan
hampir tidak ada manusia yang mempercayai sebuah sejarah
yang hanya dilisankan saja namun harus ditulis.
(Melky Manafe)



Daftar Pustaka :


Soh Andre & Maria Indrayana. 2008. Rote Ndao : Mutiara dari Selatan. Yayasan Kelopak: Jakarta.


Media Indonesia. 2011. Gereja Menggelama : Tempo dulu dan sekarang. Edisi Desemeber 2011 Hal 9. link dapat dibaca di http://issuu.com/asmat/docs/media_indonesia_26_12_2011 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar